Kartasura Greget Mangayubagya Gelaran Suronan 2022 di Karangwuni, Weru

Sukoharjo – Pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Danang Suseno yang merupakan putra dari Almarhum Ki Manteb Sudharsono puncak acara Suronan 2022 yang digelar oleh budayawan millenial Sri Narendra Kalaseba bersama Santri Gerbang Nusantara di Desa Karangwuni, Kecamatan Weru, Minggu, 31 Juli 2022 malam.

Acara Suronan 2022 digelar sejak Kamis, 28 Juli 2022 sampai Minggu 31 Juli 2022. Ribuan warga masyarakat antusias menyaksikan gelaran budaya yang sempat terhenti selama dua tahun akibat adanya pandemi Covid-19 .

Tak hanya itu, puluhan pelaku UMKM di bidang kuliner juga merasakan dampak positif acara tersebut dengan larisnya dagangan mereka.

Ki Danang Suseno tampil membawakan lakon Kresna Gugah.

Kartasura Greget dibawah pimpinan Djuyamto, SH, MH juga ikut mangayubagyo dengan membawa artis mereka yakni Temon Greget dan Kiki Atrika.

Sasya Arkhisna juga tampil menghibur, pelantun kidung sakral Kidung Wahyu Kolosebo gubahan Sri Narendra Kalaseba tersebut merasa bangga karena mendapatkan izin untuk membawakan lagu tersebut.

Sasya Arkhisna.

Temon Greget dan Kiki Atrika adalah artis jebolan ajang pencarian bakat Idola Greget 2020.

Penggagas Kartasura Greget Djuyamto,SH,MH mengapresiasi dan hormat setinggi-tingginya dengan apa yang telah dilakukan oleh Sri Narendra Kalaseba ketika membangun dan menginspirasi pergerakan generasi muda agar tidak tercerabut dari akar atau jati dirinya.

Djuyamto, SH, MH.

“Sebagai anak bangsa melalui tag line Saya Jawa. Di mana tagline ‘Saya Jawa’ bukanlah bertolak dari keinginan untuk mempertentangkan ke-suku-an atau ras, atau merasa jumawa sebagai suku paling unggul. Tidak !!. Beliau hanya ingin agar anak bangsa yang bersuku-suku termasuk suku Jawa, bangkit dan percaya diri karena sebagai salah satu suku bangsa nusantara, sejatinya memang mempunyai keunggulan di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Kepercayaan diri sebagai suku Jawa mesti diwujudkan melalui pengamalan ajaran-ajaran adiluhung para leluhur dalam keseharian kehidupan. Bukan untuk memerangi atau bersikap chauvinism terhadap suku bangsa lainnya,” bebernya.

Pria yang akrab disapa Mas Djoe tersebut menambahkan Sri Narendra Kalaseba melakukan secara nyata ajaran-ajaran leluhur, itulah makna sebenarnya dari keberlangsungan sejarah sebuah bangsa, sehingga semestinya para pemimpin atau tokoh menghadirkan teladan sebagai prioritas.

“Teladan tentang merawat kerukunan, teladan tentang saling hormat menghormati di antara perbedaan yang ada, teladan tentang bagaimana membangun sinergi diantara sumber energi. Bukan teladan adu domba, perpecahan, intrik dan saling menjatuhkan,” tandasnya.

Pagelaran budaya tersebut lanjut Mas Djoe sungguh luar biasa dengan mengambil momen Suronan.

“Kita ketahui Suro adalah tahun baru artinya dengan mengambil momen Suronan tahun baru acara acara pagelaran budaya yang diselenggarakan oleh Ndori Sri Narendra Kalaseba sangat strategis,” tutupnya.

Related posts

Leave a Comment